Cerita hot

Kisah Panas Di Kamar Riska

Cerita hot – Kisah ini tentang orang-orang yang satu rumah kos denganku, Namanya Zefanya (21 tahun) dan Riska (22 tahun), Ceritanya aku nemuin surat milik Zefanya, teman sekamarku waktu aku lagi bersih-bersih kamar. Waktu aku baca, isi surat itu bener-bener bikin aku berkeringat dingin. Surat itu dari Riska, seorang janda muda yang tinggal di rumah induk. Dan isinya, Riska pingin ketemuan sama Zefanya dan Riska pingin berhubungan badan dengan Zefanya. What? Maksudnya, Zefanya lesbian? Gawat! Jadi selama ini aku sekamar dengan lesbi? Tapi kenapa Riska pingin tidur dengan Zefanya ya? Apa dia juga lesbi?
“Aku nggak tahan lagi, Sas. Sudah lama hatiku kering, dan aku merindukan pelukan yang hangat dan mesra. Tapi, aku nggak mau ambil resiko. Jadi aku rasa aku mau menuruti tawaranmu. Malam ini rumah induk sepi. Aku tunggu kau di kamarku jam tujuh.” Begitu penggalan surat Riska.

Jam tujuh kurang seperempat. Aku sudah siap di kamar Bella, sebelah kamarnya Riska. Beruntung, karena dua hari lalu ketika Bella hendak pulang dia menitipkan kunci kamarnya ke aku. Segera aku cari tempat yang strategis buat ngintip suasana kamar Riska. Pas! Ada lobang angin-angin yang menghubungkan kamar Bella dan kamar Riska. Dan dengan mudah dan jelas aku bisa mengintip ke kamar Riska.

Riska sedang duduk menyisir rambutnya di depan meja rias. Wajah ayunya dihiasi dengan senyum. Matanya yang sayu berkali-kali memandangi jam dinding. Benar juga, nampaknya Riska menanti seseorang. Jam tujuh kurang lima menit. Tok.. tok.. tok..
“Riska.. ini aku, Zefanya.”
Riska membukakan pintu kamarnya. Nampak Zefanya tersenyum manis sambil menyapa,
“Hai!”. Busyet! Kayak ngapel ke rumah pacar saja, batinku.

Zefanya segera masuk dengan mengunci pintu kamar. Dipandanginya wajah Riska sesaat. Dibelainya wajah halus Riska yang tanpa cacat. Tapi nampaknya Riska sudah tak tahan lagi. Segera diburunya bibir Zefanya. Kedua bibir yang sama-sama mengenakan lipstik itu saling melumat dan menghisap. Bisa kubayangkan lidah-lidah mereka yang bertarung mengganas. Tangan-tangan mereka saling meremas dan memeluk kepala pasangannya. Riska menghisap kuat-kuat bibir Zefanya, dan Zefanyapun membalasnya dengan menggigit bibir atas Riska.

Baca Juga: Digoda Sama Mamud Tetangga

Zefanya segera melepaskan daster yang dikenakan Riska, dan kemudian kembali mereka bercumbu. Daster itu meluncur turun meninggalkan tubuh Riska yang kini tinggal berlapis BH dan CD tipis. Begitupun yang dilakukan Riska. Dilepasnya tali kimono Zefanya hingga nampak tubuh Zefanya yang berbalut lingerin hitam.

“Wah, bagus banget!” seru Riska ketika melihat lingerin yang dikenakan Zefanya. Bagus apaan! Menurutku lingerin itu menjijikkan. Warnanya hitam lagi transparan, dan cuman menutup payudara Zefanya sampai diujung saja. Hingga kedua gumpalan payudara berukuran 36 itu bagai ingin melompat keluar. Pakai lingerin atau bugil, kayaknya sama saja.

“Aku ingin hanya diriku yang kau puji sayang.. bukan lingerin ini.” kata Zefanya merajuk.
“Iya deh..” kata Riska kembali memburu bibir seksi Zefanya.
Bibir mereka kembali bergumul. Tangan Zefanya menyusup masuk ke balik CD Riska. Perlahan-lahan diremasnya kedua pantat kenyal Riska.
“Aah..” desis Riska keenakan.
Zefanya semakin ganas meraba-raba Riska hingga kemudian melepaskan pengait BH Riska. Penutup dada Riska itu mengendor lalu terjatuh. Ciuman Zefanya turun ke leher dan dada Riska. Tak disia-siakannya setiap inchi dada Riska yang mungil. Dicumbuinya penuh nafsu hingga ke perut lalu berhenti sebentar di pusarnya dan kemudian naik lagi hingga kembali ke bibir Riska. Diperlakukan seperti itu Riska mendesis-desis penuh birahi,
“Fanyaa.. ashh..ehmm..”.

Zefanya mendorong Riska terlentang di atas kasur dan menindihnya. Ciuman Zefanya kembali menurun hingga ke dada Riska. Diciuminya kedua bongkahan gunung kembar Riska yang sudah menegang. Putingnya berwarna kecoklatan menantang. Tanpa malu ladi dimasukkannya salah satu puting itu ke dalam mulutnya.

“Uagghh.. Sas.. ahh.. terus.. say..” gumam Riska meremas rambut Zefanya yang cepak.
Zefanya meremas-remas buah dada yang baru saja dikulumnya itu. Dan sekali-kali diplintirnya putingnya hingga membuat Riska bergelinjangan. Dan kemudian dihisapnya kuat-kuat. Sedang telapak tangan kirinya menekan kemaluan Riska yang masih dilapisi oleh CD.
“Zefanyaaaa..” teriak Riska menghentak-hentak keasyikan.

“Hmm.. ehm..” gumam Zefanya keenakan. Tak dipedulikannya erangan Riska. Kedua bukit kembar Riska digarapnya bergantian. Dikenyot-kenyotnya payudara Riska yang sudah bengkak benar bagai bayi yang amat kehausan. Riska yang sudah lama tak merasakan kenikmatan itu bagai menikmatinya dengan sepenuh hati.

Kupalingkan muka sejenak, karena tak tahan dengan libidoku sendiri yang mulai terbakar. Keringat dingin yang menetes di dahiku. Tapi aku segera kembali mengikuti permainan itu, nggak ingin rasanya tertinggal sedetik saja.

Zefanya segera merosot satu-satunya CD yang melekat di tubuh Riska yang terlentang di ranjang hingga janda muda itu bagai bayi yang baru terlahir. Kemudian Zefanya berdiri di hadapan Riska yang mengerang pasrah.
“It’s show time.” kata Zefanya.

Riska terdiam memandangi Zefanya yang mulai melucuti lingerinnya. Kain tipis itu meluncur turun meninggalkan tubuh Zefanya yang bugil total. Nampaklah dada Zefanya yang membusung bengkak menggemaskan, juga bukit kemaluannya yang licin tanpa bulu. Zefanya mulai meremas-remas buah dadanya sendiri, membangkitkan gairah Riska hingga pada titik puncaknya. Diremasnya kedua payudaranya dengan gerakan memutar hingga kedua gunung kembar itu bergoyang-goyang menantang. Dan bagai iklan sabun Zefanya membelai tubuhnya sendiri, dari dada.. perut.. hingga kemaluannya yang gundul. Tubuhnya meliuk-liuk lalu menungging membelakangi Riska dan memamerkan kesekalan bokongnya kemudian menyibak lorong kecil yang merah merekah. Nampak liang kawin Zefanya yang berlumuran lendir putih kental. Zefanya memasukkan jemari telunjuknya ke dalam liang kawin itu. “Aagh..” desah Zefanya pelan. Lalu ditariknya telunjuk yang telah basah itu. Kemudian dijilatnya dengan mata sayu menatap Riska. Oh, Batara Kala.. jangankan Riska, akupun merasa terbakar gairah.

Riska segera memburu Zefanya. Dalam keadaan berdiri diterkamnya kedua payudara Zefanya secara bergantian sedangkan tangannya mengerayangi setiap lekuk kemaluan Zefanya yang telah basah betul. “Sall.. ough..” desah Zefanya sambil mendekap kepala Riska erat. Dengan buas Riska melakukan pembalasan atas semua lumatan Zefanya.
“Aaagghh..” pekik Zefanya ketika Riska menghisap puting payudaranya sekuat tenaga.

Zefanya berkelojotan ambruk di kasur. Riska menindihnya dan terus melumat buah dada Zefanya yang bagai mau meledak. Kedua kaki Zefanya menyilang bagai mengunci tubuh Riska. Jemari Riska kembali beroperasi di sekitar kemaluan Zefanya.
“Sal.. ayo.. masukkan Sal.. aghh..” ujar Zefanya sambil mengacung-acungkan sebatang dildo kepada Riska. Riska mengerti apa yang Zefanya mau. Maka Riskapun segera memasukkan dildo itu perlahan-lahan pada lubang kawin Zefanya.

“Ee.. eghh.. ehh..” Zefanya mengedan sebentar lalu, krak! nampaknya selaput dara Zefanya semakin sobek saking kerasnya sodokan Riska.
“Aagh.. brengsek..!” pekik Zefanya ketika Riska menghunjamkan dildo itu seluruhnya ke dalam lubang kawin Zefanya. Agak sakit mungkin, karena sebelumnya Zefanya selalu melakukannya dengan perlahan-lahan dan tidak sepenuh itu. Tapi sodokan yang keras dan cepat itu memberikan kenikmatan yang belum pernah Zefanya rasakan.

“Tenanglah Sas.. nanti pasti enak..” kata Riska sembari menggoyang-goyangkan batang dildo yang tinggal dua senti itu. Dan benar saja, tubuh Zefanya terguncang-guncang nikmat. Peluh membanjir di seluruh tubuhnya yang terkulai lemas. Kelincahan tangan-tangan Riska yang menggoyang tubuhnya sambil terus meremas-remas payudaranya membuat Zefanya tak tahan lagi.
“Sal.. aku keluar nih.. eghh..” Zefanya mengedan sebentar lalu terkapar lemas.

Riska segera menarik dildo dari lubang kawin Zefanya. Dildo itu berlumuran cairan kawin Zefanya yang membanjir. Riska berbaring di samping Zefanya dengan wajah kecewa.
“Makasih ya, Sal. Aku puas banget.” kata Zefanya
“Sas, kamu curang. Aku kan belum selesai.” ujar Riska kesal.
“Iya, tunggu sebentar say.. biar aku pulihkan tenaga.” jawab Zefanya membelai wajah Riska.

Riska hanya diam, tapi roman mukanya kurang sedap. Karena merasa tak enak hati, maka Zefanya kembali membelai-belai payudara Riska. Riska memandang Zefanya degan mata sayu, kemudian di belainya kemaluan Zefanya yang masih basah.
“Hik.. kik..” Zefanya mengikik kegelian sedang Riska tersenyum-senyum menikmati rasa dingin yang menyiram tubuhnya yang ditimbulkan dari gelitikan jemari Zefanya di kedua puting susunya. Zefanya meraih batang dildo yang tergeletak tak jauh darinya lalu menyodorkannya ke wajah Riska.
“Ayo jilatlah sayang..” bisik Zefanya.

Walaupun sedikit jijik, Riska menuruti keinginan Zefanya. Dijilatinya ujung dildo yang masih basah oleh lendir kawin Zefanya itu. Pikiran Riska melayang pada Bas, mantan suaminya. Maka dengan ganas dijilatinya ujung dildo itu bagaikan menjilati penis Bas yang luar biasa besarnya. Walaupun belum pernah melakukannya sebelumnya, tapi nampaknya Riska sangat menikmatinya. Apalagi jemari Zefanya mengutak-atik isi kemaluannya. Menyusuri lorong sempit di antara rimbunan belantara dan menyentil-nyentil daging kecil yang tumbuh diantara goanya.

“Ough.. Saskii..” Riska menumbruk Zefanya dengan liar. Namun Zefanya lebih cepat membantingnya, hingga posisinya kembali berada di bawah kendali Zefanya. Zefanya segera mengambil posisi 69.
“Ayo Sall.. kamu makan bagianmu, dan aku makan bagianku yach..”
Terhampar di depan Zefanya sebidang hutan nan lebat yang telah basah dan becek. Jemari Zefanya ikut membantu menyibak belukar basah itu. Lidahnya menjulur melintasi semak belukar hingga masuk ke mulut goa. Lidah itu menyusuri goa itu hingga kemudian menjilati ujung daging kecil yang tersembul merah dan kenyal. Dihisapnya hingga daging kecil itu mengembang hingga membuat Riska yang sibuk dengan vagina Zefanya mendengking tertahan,
“Achh.. ehmm.. eennaakk..”

Tak tahan dengan rangsangan Zefanya yang begitu dasyat, Riska menggigit-gigit kecil vagina mayora Zefanya. Zefanya pun mendengking perlahan,
“Ough.. Sal.. sakit..”
Dan secara bersamaan tubuh keduanya menegang dan..
“Uachg..!” Suurr.. lendir-lendir kenikmatan mereka mengalir dengan deras. Riska merintih dalam nikmat. Lalu keduanya saling menjilat seluruh cairan kental itu hingga tandas. Rasa nikmat yang tercipta seakan ikut terasa olehku. Akupun merasa ada cairan basah yang menetes dari kemaluanku.

“Saski.. ayo masukkan penisnya.. sebelum aku keluar..” perintah Riska. Zefanyapun segera meraih dildo dan membenamkannya ke dalam lubang kawin Riska. Namun lubang kawin Riska tak selebar milik Zefanya, hingga Zefanya harus perlahan-lahan menyodokkannya.
“Engh.. terus Fanyaa..” pekik Riska yang terdiam menikmati sodokan Zefanya.
Perlahan batang dildo itu amblas dimakan oleh lubang kawin Riska. Janda itu menangis merasakan kenikmatan yang lama tak terasakan itu. Zefanya bangkit dan segera mengocok dildo yang bersarang di lubang kawin Riska. Gerakannya yang ritmis membuat Riska terantuk-antuk. Ranjang itu berdecit-decit seakan bersorak atas rasa puas yang dirasakan oleh Riska. Dan untuk kedua kalinya Riska mengalami orgasme yang nikmatnya tiada tara.

 

Aku berpaling dan menjauh dari lubang pengintipanku itu ketika Riska menangis bahagia. Dan Zefanya memeluknya mesra seraya berkata, “Riska, mulai sekarang akulah milikmu. Kau tak sendiri lagi karena aku akan selalu sayang padamu. Maukah kau menjadi kekasihku, Riska?” Dan Riska pun menangis di pelukan Zefanya.

Kubasuh peluh yang mengalir di keningku dan juga airmata yang membasah di pipiku. Akupun segera meningalkan kamar Bella. Malam itu di kamar Riska, aku mendapati pengalaman yang tak mungkin terlupakan.