cerita hot

Bersama Ami di Kota Batam

Jarum jam menujukan pukul 13.00 wib..Berarti sudah 1 jam lebih aku berada di tepi pantai Teluk Bemban Laut Teduh Batu Besar Batam ini. Aku sering mengunjungi pantai ini jika pikiranku lagi eror. Yah..view di pantai ini cukup bagus dengan hamparan lautnya yang luas menjorok ke negeri jiran Malaysia dan Singapore. Jembatan panjang perbatasan antara Malaysia dan Singapore yang konon dibangun Tomy Soeharto Putra Presiden RI juga terlihat dari pantai ini.

Gedung gedung pencakar Singapore terlihat samar samar tertutup oleh kabut, sementara pemandangan Malaysia terlihat hijau menandakan di negeri jiran itu hutanya tumbuh subur meski diketahui kawasan itu kawasan pelabuhan Pasir Gudang dan Stualang yang terkenal dengan daerah transit barang seludupan Malaysia ke Indonesia maupun sebaliknya. Di garis perbatasan laut (OPL) tampak jelas gerakan mondar mandir kapal pesiar tempat orang orang kaya berjudi yang lepas dari jeratan hukum Indonesia, Malaysia dan Singapore.

Kriiiing…kriiiing..Hp ku berdering menyadarkanku dari lamunan. Nomor yang tidak kukenal, ucapku dalam hati. Akupun memberanikan diri untuk menyabut suara dibaliktelpon yang masuk itu.

“Halooo..dengan bang Ade ?,” tanyanya. Suara seorang wanita seperti yang ku kenal.

“Ya..dengan siapa, apa ada yang bisa dibantu,” jawabku hati hati.

“Kok sudah lupa sih bang, ini dengan Ami, masih ingat gak,” terangnya.

“Oh..kamu, gimana kabarnya, kirain sudah lupa, apa sedang di Batam ?,”ucapku sedikit gugup.

“Ya bang, sudah tidak kerja di Tanjung Pinang, sekarang sudah kerja di Batam lagi, kan asik dekat dengan keluarga,” ucapnya.

“Oh gitu, sudah berapa anak kamu Mi,” ujarku bertanya.

“Ya gitu deh, belum dikasih lagi sama tuhan,” ujarnya dengan suara lemah.

“Baiklah, nanti kita sambung lagi ya, abang lagi ada kerjaan, ini nomor kamu abang simpan ya,” ucapku.

“Bener yah, nanti telpon Ami kalau abang gak sibuk, bae.bae,” katanya sambil menutup telpon.

Huuu..aku bukan tidak ingin mengobrol denganya, tapi aku belum siap untuk berhubungan kembali denganya. Masih terasa sakit, pedih dan perih hati ini jika mengingat masa percintaan kami 9 tahun yang lalu, Ami meninggalkanku disaat api cintaku sangat membara di hati ini.

Dipantai ini jam menunjukan pukul 14.30 wib. Setelah menerima telpon itu akupun terbuai dalam lamunan mengingat kisah cinta pertama kami bertemu. Ami wanita cantik berkulit putih berwajah imut , tubuhnya langsing dengan postur tubuh sedang dan sangat ideal dengan keinginanku.

Saat itu tahun 2003, awal pertama aku mengenal dirinya ketika kami bekerja di satu gedung perkantoran dikawasan Sei Panas Batam namun beda perusahaan, Ami di lantai dua sedangkan aku berada dilantai satu.

Otomatis setiap harinya aku pasti Ketemu Ami ketika pagi masuk kerja dan sore ketika usai jam kantoran. Ada rasa debar di hati setiap saat aku melihat Ami, dan akupun memiliki perasaan ingin memilikinya. Namun aku tidak bernyali mendekati wanita cantik ini karena perasaan minder dimana banyak kekurangan dalam diriku. Tapi perasaan suka itu sangat kuat hingga aku terkadang sulit memejamkan mata ketika malam tiba.

Suatu pagi aku masuk kantor lebih awal, tujuanku menunggu Susan seketaris kantorku. Aku sudah memasang strategi untuk mendapatkan cinta Ami dengan bantuan Susan. Meski jabatan kami berbeda tapi antara aku dan Susan sangat akrab layaknya abang dan Adik.

“Slamat pagi bang, sepagi ini sudah nongol, tidak biasanya deh,” ledek Susan.

“Eh kamu, mimpi apa kamu kok beraninya bilang seperti itu,” ujarku sedikit jengkel.

“Ya deh, maaf, tapi wajah abang gak seperti biasanya, kusut seperti itu,” tanya Susan.

“Biasalah, gak bisa tidur lagi banyak pikiran,” jawabku.

“Kok bisa gitu, abang mikiri apa sih,” ucap Susan penasaran.

“Gini San, abang tuh suka dengan cewek cantik diatas tu la yang sering ngerumpi sama kamu, bisa urusi gak,” ujarku sambil tersenyum malu.

“Oh, jadi abang naksir nih ceritanya, duh kasihanya sampai gak bisa tidur gitu,,,hehehe,” ledek Susan lagi.

“Serius ni San, bisa gak tolongi abang,” harapku.

“Gampang diatur tuh bang, tapi abang seriuskan, Susan gak mau dia jadi mainan abang aja, nanti Susan malu bang,” terang Susan.

“Yah San, abang serius, suer samber gledek,” janjiku pada Susan.

Ditengah obrolan seriusku dengan Susan tiba tiba Ami menyapa. Dan akupun kaget dibuatnya dan memandangnya tanpa berkedip.

“Selamat pagi semuanya, eh, selamat siang,” ujar Ami sedikit bercanda.

“Yah, selamat siang,” jawabku sambil menatap bola mata ami dan jantungku terasa berdebar.

“Kesiangan ni ngantornya,” sapa Susan pada Ami sambil matanya mengedip kepadaku.

“Lepas kantoran kita jalan ya San, aku naik dulu ke atas lagi banyak tugas, permisi ya,” ucap Ami buru buru pada Susan.

Akupun memperhatikan Ami yang berlalu. Yah..hari ini Ami terlihat cantik dan seksi tidak seperti biasanya, dengan rok pendek selutut memamerkan betisnya yang putih mulus. Eheem..aku berdecak kagum padanya.

“woi..mata tu,” ucap Susan mengagetkanku.

“Maklumlah, bisa kan San, please ya, please,” ujarku berharap pada Susan.

“Tenang aja bang, ntar Susan usahai bilangi ke dia, tapi siap siap kecewa ya bang kalau dia gak mau,” jawab Susan.

“Okey,” jawabku singkat.

Akupun tidak perduli lagi dengan pekerjaan urusan kantor. Yang ada di otaku hanya ada bayang bayang Ami. Hari ini aku agak pulang cepat tidak seperti biasanya karena pikiranku yang kacau dan cukup lelah memikirkan bayang bayang Ami yang bermain di benak ku.

Dan tanpa kusadari jam menunjukan pukul 7 pagi. Begitu nyenyaknya tidurku malam tadi, tanpa pikir panjang akupun melompat dan..byuuuuur..byuuuur..air Pam terasa dingin namun badanku terasa segar. Berpakaian dan akupun bersiap siap ngantor. Jantungku terasa berdebar debar menanti kabar dari Susan. Sudah kumantapkan diriku untuk menerima kabar sepahit apapun.

Tiba di kantor akupun mengendap ngendap ingin mengagetkan Susan yang sedang sibuk membereskan peralatan kantor.

“Ehem.ehem,” dengan suara kuatku.

“ih abang, bikin kaget aja nih,” ucap Susan dengan wajah sebel.

“Ya deh, maafin ya San. Oh ya..gimana kabarnya,” tanyaku.

“Yang kemarin itu..mmmm..ada deh,” ujar Susan bikinku penasaran.

“Maksudnya, dia sudah punya pacar ?,” tanyaku penasaran.

“Gak tau tuh, coba abang deketi aja pelan pelan,” saran Susan.

“Duh, abang gak pede San,” jawabku putus asa.

“Gini aja, ntar sore kita jalan bareng ke Mall, abang mau gak,” ajak Susan.

“Oh gitu, baiklah,” ujarku.

Suara kendaraan terdengar terhenti. Akupun mencari tahu siapa yang datang. Ternyata Ami, yang baru datang dan jantungkupun berdegup.

“Slamat pagi bang,” sapa Ami yang membuatku gugup tanpa bisa berucap dan hanya bisa membalas dengan anggukan saja.

“Duh, harumnya,” bisiku dalam hati.

“Mbak Ami, ntar sore kita jalan yuk, bang Ade mau ikut juga tuh,” ajak Susan kepada Ami, namun membuat aku jadi ke GR an.

“Boleh, asik juga tuh kalau abangnya ikut,” ujar Ami sembari memberi senyuman manisnya kepadaku. “Ikut ya bang,” ujar Ami lagi.

“ Ya deh, ikut,” jawabku gugup.

“Okey, naik ke atas dulu ya, lagi banyak kerjaan ni,” ujar Ami sambil berlalu.

“Eh San, kok kamu bilang ngajaknya pakek didepan abang segala, abang jadi malu ni,” protesku pada Susan.

“Duh si abang, jadi bilangnya di toilet gitu, santai aja lah bang,” ucap Susan sambil memelototkan matanya tanda jengkel.

“Bang, kemarin tuh sebenarnya sudah Susan sampaikan kalau abang tuh naksir dengan mbak Ami,” ucap Susan.

“Trus, apa katanya san,” tanyaku penasaran.

“Ya gitu deh, dia bilang jalani aja dulu,” jawab Susan.

“Oh, berarti dia membuka hatinya untuk abang dong,” ucapku.

“Yah dikit…hehehehe…makanya, Susan ajak kita jalan bertiga, jadi ada peluang abang untuk ngobrol sama mbak Ami, Pede kate gitu la bang,” terang Susan.

“Mantap San, tapi nanti tolong bantu kalau abang kehabisan kata kata ya,” ujarku bercanda.

“Heeeem, maunya,” ucap Susan.

Pukul 5 sore usai jam kantor sangat terasa lama bagiku. Setiap saat mataku selalu melirik kea rah jam tanganku. Yah..saat ini baru pukul 3 sore. Para karyawan terlihat sangat sibuk mengerjakan tugasnya. Sementara aku hanya mondar mandir saja karena semua tugasku telah cepat ku selesaikan.

“Bang, sudah pukul 5 nih, jadikan kita jalan, bentar lagi mbak Ami turun tuh,” ujar Susan sambil memberi semangat padaku.

“Yah San, tuh suara sepatunya, da mulai bergerak sepertinya,” ucapku.

“Oh..sudah pada nunggu toh,” ujar Ami tiba tiba.

“Ya mbak, jalan kemana kita mbak,” tanya Susan.

“Tanya sama abangmu San maunya kemana,” jawab Ami.

“Kemana bang,” tanya Susan padaku.

“Terserah mau kemana, aku ngikut aja,” jawabku singkat.

“Ke DC Mall aja deh,” ajak Susan.

“Oke,” ujar Ami dan aku hanya mengngukan kepala tanda setuju.

Dalam perjalanan, Susan berbisik kepadaku dan mengatakan jika diambilnya keputusan ke DC Mall disebabkan Mall ini tidak terlalu ramai pengunjungya, jadi agar aku banyak kesempatan pedekate dengan Ami. Encer juga pikiran anak satu ini, ujarku dalam hati.

Dipusat perbelanjaan DC Mall tidak banyak kegiatan yang kami lakukan. Setelah berkeliling cuci mata sekejab kamipun menuju lantai dua. Kamipun mampir di sebuah tempat makan minum untuk merilekskan tubuh yang capek seharian bekerja. Dan megobrol ngalorngidul yang semangkin lama terasa akrab. Beberapa kali Susan mengedipkan mata mengisyaratkan sudah saatnya aku harus beraksi mengungkapkan perasaanku.

“Bentar ya, mau ke toilet dulu,” ujar Susan.

“Toilet yang sebelah sana agak dekat tuh San,” ujar Ami mengarahkan.

Kini hanya tingggal aku dan Ami namun tidak banyak berbicara. Ada perasaan canggung di dalam diri kami masing masing dan sepertinya ada sebuah misteri yang harus kami ungkap bersama. Akupun mencoba beranikan diri membuka suara agar suasana tidak membosankan Ami.

“Maaf Mi, apa kamu sudah punya pacar ?,” tanyaku membuka percakapan.

“Dulu ada sih, tapi sekarang sudah tidak ada lagi, kenapa,” ucapnya balik bertanya.

“Gak apa apa, Cuma pengen tahu aja,” ucapku.

“Kenapa Susan lama sekali ketoiletnya ya,” ujarnya, dan akupun tidak memperdulikan keberadaan Susan yang saat ini entah dimana.

“Mi, kamu sangat cantik, bolehkah abang jadi pacar kamu,” tanyaku cemas, dan Ami memandangku dengan tajam membuat aku semangkin cemas takut curahan hati mendapat keputusan yang mengecewakan.

“Heeem..nanti abang nyesal, abangkan belum tahu siapa aku,” terangnya.

“Jangan bicara seperti itu Mi, abang bukan hanya ingin menjadi pacar kamu tapi abang ingin menikahi kamu,” ucapku mantap sambil menatap bola matanya dalam dalam.

“Kita jalani aja dulu bang, kita kan belum tahu juga siapa jodoh kita nanti,” ujarnya sambil menundukan kepala..

“Yakinlah Mi, abang pasti membahagiakan kamu,” janjiku sambil menggenggam tanganya.

“Abang serius,” tanyanya sambil membalas genggaman tanganku, dan akupun membalas dengan anggukan kepala.

“Duh pakek genggaman tangan segala, emang da jadian ceritanya ni,” ujar Susan tiba tiba mengagetkan sehingga membuyarkan kosentrasiku.

“Eh kamu, kok lama kali di dalam toiletnya,” balas Ami.

“Iya mbak, ke toiletnya sebentar, tadi ada yang mau di beli di supermarket jadi mampir kesana sebentar,” terang Susan beralasan.

“Sialan, gak pakek ngajak segala sih,” ujar Ami menghalau rasa GR nya padaku.

Berawal saat itu, hubunganku dengan Ami semangkin akrab dan romantic saja. Bahkan sebahagian para karyawan kantor tempat kami bekerja mencium hubungan jalinan kasih kami. Bahkan setiap suasana kantor lagi sepi aku dan Ami selalu mencuri waktu bertemu, dan ciuman kecilku di kening, pipi, maupun bibir Ami menghiasi sepanjang hari hari kami. Hubungan kian erat dan setiap hari usai pulang ngantor, aku, Ami dan Susan selalu pergi menghabiskan waktu di Mall yang ada di kota Batam, nongkrong di kafe maupun KTV dan pukul 9 malam baru bubaran pulang kerumah masing masing. Ketika kami berjalan aku merasa setiap pria yang melihat pasti cemburu denganku yang tidak seberapa ini malah didampingi dua bidadari cantik.

Kini hidupku terasa begitu indah dan bahagia. Ami yang kini masuk dalam kehidupanku ternyata telah merubah penampilanku menjadi percaya diri. Suatu hari dihari sabtu Susan tidak masuk kantor dengan alasan sedang datang bulan. Akupun mengirim sms ke Ami jika sore ini pergi jalan berdua tanpa kehadiran Susan.

“Pergi kemana kita bang,” tanya Ami.

“Kemana aja yang penting kamu senang,” jawabku.

“Okey deh, kita keliling keliling mall aja menghabiskan malam minggu ini ya bang,” ujar Ami tersenyum dan akupun membalas senyuman manisnya itu.

Sepanjang mejeng di Mall, tangan Ami selalu ku gengam erat dan sesekali merangkul pundaknya. Duh..terasa sejuknya hati ini saat berada di samping Ami. Bahkan Ami tidak sungkan merangkul pinggangku, dan akupun mengerti jika Ami ingin selalu dimanja olehku. Hingga tidak terasa waktu kian merangkak pukul 8 malam.

“Bang, sudah agak malam ni, pulang yuk,” ucap Ami.

“Ya udah, kita cari makanan dulu, sudah agak lapar ni,” ajakku.

“Ya deh, terserah abang aja,” ujarnya.

Akupun mendapatkan warung tempat makan yang agak sepi. Duduk saling berhadapan dengan Ami dan memesan makanan. Sesekali mata kami saling beradu pandang. Ami sangat cantik dan imut, aku sangat mencintai dan sayang sekali dengan Ami..yah..aku telah jatuh cinta dengan Ami, bisiku dalam hati. Sesekali Ami menatap mataku dan mata kami akhirnya saling menatap dengan dalam, bagai daya magnet yang saling tarik menarik, dan akupun sadar jika tatapan itu mengandung makna dan hanya hati kami yang tahu makna itu. Tanpa terucap kata tangan kamipun saling membalas genggaman.

Pelayanpun datang mengantar pesanan makanan sehingga membuyarkan perasaanku dengan Ami. Kamipun sangat lahap menyantap hidangan dan sesekali aku mencuri pandangan ke Ami dan begitu juga sebaliknya. Usai makan kamipun berlalu meninggalkan Mall itu tepat pukul 9 malam. Dan tangan kami saling menggengam erat.

“Mau kemana lagi kita bang,” ujar Ami yang membuatku sejenak berpikir.

“Kita gak usah pulang aja yuk Mi, mending kita cek in,” ajaku bercanda.

“Yah..terserah abang aja deh,” jawab Ami diluar dugaanku yang membuatku kaget.

“Sebentar ya bang, mau telpon kerumah ngabari aku tidur dirumah teman,” ucapnya.

“Ya Mi,” ujarku gugup.

Kamipun mengitari pusat kota Nagoya Batam dan mendapati sebuah hotel bagus namun harga menginap permalamnya terbilang murah.

“Kita cek in disini aja ya Mi, kelihatanya bagus juga tuh,” ajakku.

“Ya bang, kita coba aja,” ujarnya.

Di hotel ini cukup nyaman dan bersih. Didalam kamar ini kamipun mengungkapkan pengalaman hidup masing masing. Badan terasa gerah, beberapa menit kemudian Ami permisi mandi sedang aku tidur tiduran di kasur.

“Sono gantian mandi bang, satu harian keliling berkringat gak enak di badan,” ujar Ami usai mandi dan mengejutkanku di pembaringan. Pandangan matakupun tidak lepas dari tubuh Ami yang hanya dengan balutan handuk.

“Woi, mandi sana, kok malah bengong,” ucap Ami sambil melototkan matanya.

“Yah,” balasku sambil berlalu.

Akupun menyetel kran air agar menjadi hangat dan tanpa kusadari sudah 20 menit aku mandi menikmati air hangat. Selanjutnya akupun mengeringkan badan dan sangat terasa segar tubuhku dan selanjutnya mengenakan pakaian. Aku lihat Ami sudah memejamkan mata dipembaringan. Sudah tidur pikirku. Dan akupun duduk disisi pembaringan menikmati pemandangan tubuh Ami yang sedang terlelap. Wajahnya terlihat imut dengan rambut panjangnya. Bibirnya yang sangat seksi ingin ku mengecupnya, sedangkan kulitnya putih bersih tanpa ada noda cacat, begitu mulus.

Memakai celana selutut namun aku bisa memandangi betisnya yang putih mulus. Wanita yang sangat sempurna, ucapku dalam hati. Ingin rasanya memeluk dirinya tapi aku takut mengusik lelapnya. Nafaskupun tersengal ketika melihat buah dada yang terbungkus kaos yukensi. Ternyata kekasih imutku ini tidak memakai bra, itu kuketahui ketika putingya rada rada menonjol.

Begitu beruntungya aku dapat memiliki cintanya. Desakan hatiku untuk menikahinya meledak ledak. Yah..aku akan selalu membahagiakan kamu, cinta sampai kiamat, sayang sampai kiamat, susah senang bersama sampai kiamat, itulah janji yang kutanamkan dalam hatiku sejak saat ini.

Matakupun sudah sedikit berat, rasa kantuk tidak dapat kutahan lagi. Kupandangi Ami yang tidur membungkukan badanya seperti kedinginan terkena AC. Akupun menyelimuti tubuhnya dan mencium keningnya, selamat tidur sayang, ucapku berbisik, akupun membuka baju dan akupun ikut masuk kedalam selimut.

Satu jam terlelap tiba tiba aku tersentak bangun. Serasa ada hal yang aneh mengusik lelapku, selanjutya akupun menghirup udara dalam dalam dan menghembuskanya, ini kulakukan untuk  meluruskan aliran darah ditubuhku dan menormalkan pikiranku yang kurang stabil disaat terbangun tiba tiba tadi.

Setelah pikiranku normal akupun mendapati Ami tersayangku tidur menyamping disisiku sambil memeluk tubuhku. Sangat terasa aroma wangi tubuh Ami yang membuat jantungku berdebar. Darahkupun berdesir melihat kondisi Ami yang sudah tidak mengenakan pakaian lagi. Tanganya berada didadaku sedangkan buah dadanya yang empuk menempel erat disamping rusuk sebelah kiriku. Sedangkan pahanya menimpa pahaku, dan tangankupun mencoba meraba pahanya yang terasa halus namun ternyata Ami tersayangku hanya mengenakan celana dalam saja. Akupun menelan ludah dan darah kelaki lakianku mulai berdesir kencang. Kulirik jam tangan ternyata menunjukan pukul 12 malam.

Aku mencoba menahan nafas dan mendam nafsu yang begitu sulit kurasa dalam situasi seperti ini. Aku sangat mencintai Ami tersayangku. Perlahan lahan tangan kananku mengangkat tangan Ami dari dadaku. Ingin tubuhnya kuselimuti agar tidak menyentuhku, ini kulakukan agar aku dapat meredam nafsuku yang saat ini sedang sangat tinggi.

Akhirnya aku berhasil memindahkan tanganya dari dadaku dan menutup buah dadanya dengan lipatan tanganya meski ingin rasanya aku mengulum putingnya yang kemerahan. Giliran pahanya yang putih mulus, perlahan kugeser pahanya dan berhasil.

Akupun menarik selimut untuk membalut tubuh putih mulus Ami tersayang agar tidak kedinginan. Tiba tiba Ami terjaga dari tidurnya dan menatapku, dan akupun kaget. Mata kami saling bertatapan, begitu cantiknya Ami dihiasi matanya yang sayu sedang menatapku. Tidak ada kata kata yang terucap namun hanya hati yang bisa berbicara.

Selang beberapa menit tangan Ami tersayang meraih tanganku dan menggenggamya. Tanpa disadari wajah kami semangkin mendekat..mendekat dan mata Ami tersayangpun terpejam. Ku kecup kening Ami sambil mengusap rambutnya dan akupun berbisik ditelinganya.

“Abang sangat mencintai dan menyayangi kamu say,” bisiku.

Ami tersayang menatapku, tanganya meraih leherku dan mendekatkan kewajahnya. Dengan cepat bibirnya menyambar bibirku. Tak kuasa menahanya akupun membalasnya dan kamipun saling melumat. Cukup lama kami saling membalas lumatan hingga akhirnya kucumbui tubuh mulus Ami.

“Oooh,” beberapa kali Ami mendesis.

“eesssss..,” desah Ami yang membuatku smankin bernafsu.

Tanganya merangkul tubuhku dan sesekali meremasnya. Bukan hanya melumat bibir merah seksinya saja, akupun mulai mencium leher jenjangnya hingga basah. Dan lidahku turun ke buah dada sambil mengisap puting kemerahanya, kuluman dan isapan membuat Ami tersayang mendesis desis sambil meremas pundak ku.

“Ohhhhhhh…ssssssssssssssss,” desisan panjang Ami.

“Baaaang….hsssss,” desah Ami menikmati cumbuanku.

“Sssssss…Ooooh..aaaaaaah,” Ami semakin mendesah namun lidahku terus bergerilya diseluruh tubuh mulus Ami tersayang.

Akupun akhirnya tidak mampu menahan birahiku yang sedang tinggi tigginya.

Tanganku mulai mengelus paha mulus Ami, dan berusaha membuka CD yang dikenakanya.

“Baaang,” ucap Ami manja sambil menatap mataku.

Aku hanya diam dan hanya tersenyum manisku padanya. Ami tersayang membalas dengan anggukan mengisaratkan agar aku meneruskan apa yang sedang kami inginkan bersama. Akhirnya tidak ada sehelai benangpun kini menempel di tubuhnya. Sejenak kunikmati dengan tatapan tubuh mulus indah Ami tersayangku. Dan akupun memulai aktivitas secara perlahan.

“Mmmmmm……ssssssss oooooooh,” desis Ami menahan sakit.

“iiihhhh…ouhhhhh..baaang,” desah Ami merasakan kenikmatan sambil matanya meram melek.

Sekian menit kulakukan aktivitas secara perlahan agar Ami dapat mengimbangi aktivitasku. Dan menit berikutnya akupun mulai mempercepat laju gerakan namun tetap menjaga suasana agar tetap romantic. Berbagai gaya kami lakukan hingga memakan waktu sekitar satu jam kamipun sudah berada dipuncak kenikmatan.

“Mmmm..ssst..ah..aaaaaah,” desah Ami memuncratkan kenikmatan yang membuat semangkin basatelah.

‘’oooooh…yaaaah..sayaaaang,” akupun menuntaskanya meresapi kenikmatan sambil mengulum buah dada Ami yang putih mulus, kenyal berputing kemerahan.

Pebaringan telah basah oleh keringat dan air kenikikmatan dan Kamipun saling berpelukan erat merasakan sisa sisa kenikmatan. Kamipun saling melumat bibir dan mengulumnya. Sungguh kenikmatan kami rasakan bersama.

“Abang takut kehilangan kamu Mi,” bisiku ditelinganya.

Kamipun akhirnya tertidur saling berpelukan seakan takut kehilangan. Terasa sangat letih namun cinta yang kami bina selama ini semangkin tumbuh subur. Dan pagi hari sebelum Cek Out kamipun bercumbu lagi, aktivitas pagi ini lebih kreatif dan lebih panas yang memakan waktu satu setengah jam. Dan merasakan puncak kenikmatan yang teramat sangat.

Hari hari selanjutnya aku dan Ami tersayang tidak pernah lepas dari urausan ranjang. Setiap tanggal merah atau libur kantor kami selalu menghabiskan waktu di kamar hotel untuk meraih puncak kenikmatan bersama. Yah..begitu indah kisah percintaan ini. Hingga karyawan kantor juga sudah ada yang mengetahui kami yang sedang dimabuk asmara, tapi kami tidak ambil pusing. Yang jalani hidup kan kami berdua, bukan kalian.

Satu tahun lebih kami jalani kisah percintaan ini. Namun Ami tidak pernah medapati tanda tanda ke hamilan. Padahal aku ingin sekali memiliki momongan. Timbul keraguanku atas ketidak hamilan Ami yang jangan jangan ia memakai obat obatan anti hamil. Dan akupun selalu mendesaknya untuk segera menikah. Ami selalu menolak setiap desakanku itu.

Beberapa bulan selanjutnya Ami mulai terlihat berubah. Aku mulai curiga dengan adanya orang ketiga dalam kisah percintaan kami. Komunikasi dan pertemuan dengan Ami tetap seperti biasa namun aku secara perlahan dan diam diam ingin mengungkap sebab perubahan Ami tersayang akhir akhir ini.

Suatu hari Ami kupergoki pergi dengan seorang pria mengendari mobil mewah. Inilah awal kehancuran hubungan percintaan kami. Beberapa kali aku bertanya pada Ami siapa sosok pria itu.

“Siapa pria yang pergi dengan kamu itu Mi,” tanyaku.

“Gak usah bahas masalah itu la,” jawabnya.

Akupun mencoba bersabar, karena aku takut ia tersinggung jika aku terlalu mendesaknya. Akibatnya kamipun sering bertengkar kecil secara halus. Dan permasalahan selesai setelah menghabiskan waktu di kamar hotel meraih puncak kenikmatan.

Beberapa kali Ami pergi bersama pria itu bahkan sampai ke luar kota. Hatikupun hancur, pedih dan perih ketika aku mengetahui Ami ternyata memiliki hubungan khusus dengan pria itu.

“Mi, aku cinta mati sama kamu, aku ingin kejujuran kamu, siapa pria itu,” desaku bersabar menahan emosi. Iapun menatapku dengan tajam.

“Baik kalau itu yang ingin abang inginkan,” ucapnya dengan wajah sinis.

“Siapa Mi, abang siap mendengar apapun itu,” desaku tidak sabar.

“Yah..dia mantan pacarku, aku tidak bisa melepaskan dia,” ujarnya lalu menangis.

“Oh gitu,” ucapku berusaha tegar meski setetes air mataku mengalir.

“Ya, sudah tidak apa apa,” ujarku berusaha tegar.

Sejak saat itu, Ami tidak pernah memberi kabar lagi. Ia menikmati hidupnya bersama pria itu. Sedang aku dari detik ke detik menahan kesakitan hati, pedih dan perih. Hati terasa tersayat sayat, dan akhirnya kondisi kesehatanku pun terganggu ditambah Kurus dan kumal. Bayang bayang Ami selalu hadir dalam sadarku.

Tanpa sepengetahuan Ami aku sering mempergokinya Ami bersama pria itu di hotel mewah. Begitu sakitnya hatiku, mataku berkunang kunang serasa ingin pingsan. Meski aku terkadang bertemu dengan Ami selama ini itupun hanya sebentar. Rasa cinta dan sayangku kepada Ami telah merasuk kedalam tulang sumsum ku. Yah..meski Ami telah bersama pria lain namun tidak pernah ada kata putus cinta yang keluar dari mulut kami. Karena suatu hari kami pernah berikrar untuk Cinta sampai mati, cinta sampai kiamat, sayang sampai kiamat.

Akupun mulai sering menyendiri..selalu teringat kisah indah bersama Ami, namun terasa sakit dan perih ketika ku teringat ia bersama pria itu. Meski aku yakin masih ada sedikit sisa cinta di hati Ami untuku.

Menghilangkan bayang bayang itu akupun mulai mengenal miras dan obat obatan. Tapi yang terjadi aku smangkin terjerumus dengan permainan bayang bayang Ami, dan airmata mengalir deras meski aku mencoba setegar mungkin.

“Ini air mata untukmu Mi..yah..ini air mata untukmu, untukmu selalu sampai kiamat..air mata ini tidak akan pernah kuberikan pada siapapun..air mata ini hanya untukmu,” bisiku berulang dalam hati.

Waktu terus berlalu, bayangan Ami selalu menari nari dibola mataku. Begitu sulit aku untuk mengindar dari bayang bayang dirinya. Dan akupun mencari pelampiasan kekesalanku yang teramat ini. Akupun mulai mencari wanita wanita untuk menghibur diriku. Beberapa wanita kujadikan pengganti sosok Ami tersayangku. Akupun sering membawa para wanita yang kuinginkan dari satu hotel ke hotel lain yang bertebaran di kota Batam. Tapi bayang bayang Ami tetap hadir.

“Maaf dek, saya tidak bisa melakukan, nih tip buat kamu, pulanglah,” ucapku pada setiap wanita yang ku boking.

“Yah bang, rugila abang, sudah dibayar kok gak di pakek, aneh abang ni,” ucap wanita wanita itu.

“Tidak apa apa, pergilah dari sini,” ucapku memaksa.

“Ya deh,” ujar wanita itu dan berlalu, dan air matakupun menetes mengingat Ami, dirinya telah terpatri kuat dalam diriku.

“Air mata ini untukmu, Ami, apa kamu selalu ingat diriku, kamu tidak tahu air mata ini hanya untukmu,” ujarku berbisik dalam hati.

Terasa sulit, aku tidak mampu melupakan Ami tersayangku. Hingga aku suatu saat pergi ke Pulau Bali. Mabuk mabukan dan wanita penghibur di pulau dewata itu tetap tidak mampu menggantikan sosok Ami tersayangku. Minuman keras dan wanita penghibur nyatanya menambah membangkitkan daya kekuatan otakku mengingat Ami tersayangku. Meski empat hari di pulau Bali namun bayang bayang Ami tetap mengurung kehidupan bebasku.

Hingga sepulangku dari Bali kusempatkan menitipkan oleh oleh untuk Ami tersayangku. Dari hari ke hari aku terus tetap tegar meski tetesan air mata selalu menetes. Dan selalu kubisikan jika Air mata ini hanya untukmu, Ami tersayang.

Hingga beberapa tahun kemudian hidup dalam kekangan bayang bayang Ami dengan derai tetes air mata untuknya. Dan tanpa kuduga suatu hari aku bertemu dengan Ami. Tapi kali ini Ami bergandengan dengan seorang pria lain, bukan pria bermobil mewah yang dulu sering kupergoki bersama Ami. Melihatku Ami mengejarku dan meninggalkan pria itu yang terbengong memperhatikan Ami yang berlari kecil ke arahku.

“Apa kabar bang,” ucap Ami sambil menyalami ku.

“Baik,” jawabku berusaha tegar.

“Siapa tuh,” tanyaku penasaran.

“Calon suamiku bang,” ujarnya.

“Sudah ya bang, tuh sudah ditunggunya,” ujarnya sambil berlalu.

Sejak pertemuan itu, entah sebab apa aku dapat mengubur sementara perasaan cintaku dengan Ami meski sesekali air mataku menetes tanpa kusadari..yah..air mata ini hanya untukmu Mi, sampai kiamat.

Dua minggu sebelum pernikahan Ami tanpa ku duga lagi lagi aku bertemu Ami di sebuah toko roti bersama calon suaminya. Ami tersayang langsung menghampiriku dan kamipun ngobrol singkat dengan suara pelan tanpa sepengetahuan calon suaminya.

“Apa kabar bang,” sapanya.

“Baik, seperti kamu juga,” jawabku.

“Apa kamu sudah mengubur dalam dalam kisah cinta kita,” ucapku balik bertanya.

“Tidak bang, aku selalu teringat abang, dan tidak pernah mengubur dan melupakan kisah cinta kita,” jawabnya dengan wajah serius.

Akupun menatap wajah Ami tersayangku. Dari sinar bola matanya kurasakan ada setitik cinta yang masih tersisa untukku. Tiba tiba calon suaminya menghampiri dari belakangku dan akupun kaget.

“Aduh asik bener ngobrolnya,” sapanya.

“Ini bang kenalkan kawanku,” ujarnya pada calon suami. Aku berusaha menguasai situasi ini.

“Kenal dimana sama Ami,” tanyanya padaku.

“Oh..dulu kantor kami satu gedung,” ujarku sambil melempar senyum.

Takut keceplosan bicara Ami selanjutnya cepat cepat mengajak suaminya pamit diri dari hadapanku. Dan Ami mengundangku untuk datang ke pestanya nanti. Dan akupun menganggukan kepala sambil tersenyum. Setelah Ami berlalu, matakupun basa oleh tetes air mata. Yah..air mata ini untukmu, bisiku dalam hati.

“Loh, abang nangis ya,” ujar pelayan toko roti tiba tiba.

“Ah elo, orang lg ngantuk, semalam bergadang, jadi kurang tidur, yah matanya jadi berair gini,” ujarku menepis rasa malu.

“Oh gitu,” ujar pelayan itu tersenyum menggodaku dan iapun berlalu.

Sejak saat itu akupun tidak pernah bertemu dengan Ami lagi, mungkin ia sedang menikmati hari kebahagianya bersama suaminya. Akupun sudah dapat megontrol diri, bayang bayang wajah Ami telah dapat kulupakan meski perasaan cinta dan sayangku masih terasa begitu kuat. Akhirnya aku dapat menemukan jati diriku kembali. Aku yakin cinta kami kekal sampai kiamat tiba, mungkin dikarenakan selama hubungan percintaan dan kami tidak pernah terucap kata putus cinta dari mulut kami. Hanya, kisah kasihku bersama Ami dan kisah cinta kami selalu datang dan pergi begitu saja tanpa ada kabar.

Setelah beberapa tahun kemudian, perasaan rinduku kepada Ami begitu kuat. Aku tidak tahu apakah perasaan Ami sama denganku. Akupun berusaha mencarinya namun tidak pernah ketemu bahkan kabarpun tidak pernah kudengar lagi. Air mataku selalu menetes. Air Mata ini untukmu, hanya milik Ami seorang, bisiku dalam hati

Satu tahun kemudian akhirnya aku mendapat kabar tentang Ami tersayangku. Susan mantan seketaris kantor memberi kabar tentang Ami. Gairah hidupkupun pulih kembali hingga akhirnya aku berhasil berkomunikasi melalui telpon genggamya.

“Apa kabar bang,” sapanya.

“Baik, kamu sekarang ada dimana kok gak pernah ada kabar lagi,” tanyaku.

“Biasala bang, sekarang kan sudah punya suami,” jawabnya.

Emang sekarang kerja dimana tuh,” tanyaku lagi.

“Di Mall bang, main lah ke sini,” ajaknya.

“Okey deh, di mana alamatnya, ntar kalau ada waktu datang kesana,” balasku.

“Bener ya bang..okey,” ucapnya.

Sejak saat itu, akupun sering mengunjungi di tempat kerjanya, bahkan kami sering makan siang bersama. Ami masih seperti dulu, cantik dan imut. Sorot matanya memancarkan sisa sisa cinta untuk ku. Mata kamipun selalu bertatapan. Ingin rasanya ku kecup kening dan mengulum bibirnya yang seksi itu. Yah..aku ingin mengulang masa masa indah percintaan seperti 9 tahun yang silam bersama Ami. Tapi Ami kini telah berstatus istri pria lain, sedang aku masih hidup sendiri. Meski semua itu, bersatunya kekuatan cinta yang telah mendarah daging dihati kami telah mengalahkan segalanya, untuk bersatu kembali.

Related Post

Gadisku Tubuhmu Yang Mempesona Sejak pertama kali mengenalnya pada sore hari yang ketika sedang menuggu angkot di daerah Sleman. Saat itu sore yang sudah gelap gulita dan sudah mula...
Ibu Muda Yang Seksi. Narasi ini yaitu pengalaman saya dengan ibu Muda yang HOT miliki badan yang seksi serta payudara yang besar buat siapa saja yang memandangnya tentu ti...
Kejadian Luar Biasa Pada pagi di suatu hari ketika ada seorang wanita hendak berpergian ke sebuah tempat yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, dia hendak berpergian kes...
Ku Ambil Keperawanan Gadis Tetanggaku Minggu sore hampiir pukul empat. Sesudah menonton CD Dewasa sedari pagi kemaluanku tak mau diajak kompromii. Sii adek keciil iinii keppingin segera di...
Kecanduan Memek Babysister Cantik Malam telah larut dan jam telah menunjukan pukul 9 malam. Sedari siang tadi kakakku bersama suaminya menghadiri pertemuan sebuah Network Marketing dan...
Birahi Rintihan Kalbu Suara gemuruh dari TV yang telah habis menayangkan programnya membuatku terjaga dari tidur di sofa. ku lirik jam di dinding telah menunjukkan hampir p...